Terlindung Seperti Biji Mata

 Terlindung Seperti Biji Mata





Amsal 7:2 

Berpeganglah pada perintahku, dan engkau akan hidup; simpanlah ajaranku seperti biji matamu.



Firman Tuhan bukan sekadar teks suci yang dibaca setiap hari, melainkan sesuatu yang harus dijaga dengan hati-hati — seperti seseorang menjaga biji matanya.  Biji mata adalah bagian tubuh yang paling sensitif dan berharga, sebab melaluinya kita dapat melihat dan menavigasi kehidupan.  Tanpa penglihatan, seseorang akan kesulitan membedakan arah, dan tanpa firman, hati manusia kehilangan panduan yang benar.  Karena itu, Amsal mengingatkan kita bahwa firman Tuhan harus disimpan dan dijaga seperti biji mata — dijauhkan dari debu dosa dan kotoran dunia yang bisa mengaburkan pandangan rohani kita.

Ketika mata kita kotor, penglihatan menjadi kabur.  Demikian juga, ketika hati kita tidak dijaga oleh firman, arah hidup kita menjadi buram.  

Banyak orang tersesat bukan karena mereka tidak tahu apa yang benar, tetapi karena mereka membiarkan pandangan hatinya dipenuhi oleh hal-hal dunia yang memikat.  

Firman Tuhan bukan hanya memberi terang, tetapi juga melindungi agar kita tidak kehilangan arah.  Itulah sebabnya Tuhan mendesain mata dengan perlindungan berlapis — sebuah pelajaran yang sangat indah tentang bagaimana kita juga seharusnya melindungi kehidupan rohani kita.

Perhatikan bagaimana Tuhan menciptakan mata dengan begitu detail.  Ada kelopak, alis, bulu mata, dan refleks alami untuk menutup mata saat bahaya datang.  Semua ini bukan kebetulan, tetapi rancangan yang menggambarkan prinsip rohani: sesuatu yang berharga harus dijaga dengan sistem perlindungan yang kuat.  “Menyimpan ajaran seperti biji mata” berarti belajar dari sistem perlindungan yang Tuhan sendiri tanamkan dalam tubuh kita.  Ia memberi kita gambaran konkret tentang bagaimana menjaga firman dalam kehidupan sehari-hari.

Kelopak mata berfungsi menutup otomatis ketika bahaya mendekat.  Ia tidak menunggu perintah sadar dari otak; refleks ini terjadi secara alami demi melindungi penglihatan.  Ini menggambarkan keputusan rohani untuk menutup pandangan dari hal-hal yang tampak menyenangkan namun menyesatkan. 

Ada waktu di mana kita harus berani “menutup mata” terhadap godaan dunia, menahan diri dari keinginan yang menyesatkan, dan berkata dalam hati, “Aku tidak perlu melihat itu.” 

Menjaga firman berarti berani menolak apa yang tampak manis tapi beracun.  Sama seperti kelopak mata melindungi pandangan, keputusan kita untuk menolak dosa menjaga hati tetap murni.

Alis mata memiliki peran yang sering diremehkan — ia menahan keringat dan debu agar tidak mengalir masuk ke mata.  Ia adalah batas kecil yang mencegah hal-hal sepele merusak penglihatan.  Dalam kehidupan rohani, “alis” menggambarkan disiplin dan batasan yang kita pasang dalam hidup: waktu doa yang teratur, pembacaan firman setiap hari, dan kebersamaan dalam komunitas rohani yang sehat.  Sekilas hal-hal ini tampak sederhana, bahkan rutin, tetapi sesungguhnya merekalah pagar yang melindungi kita dari “debu dunia” — pikiran negatif, kebiasaan buruk, dan pengaruh yang menumpulkan iman.  Tanpa disiplin rohani yang konsisten, pandangan iman akan mudah buram dan kabur.

Sementara itu, refleks mata yang segera menutup saat bahaya datang melambangkan kepekaan rohani.  Orang yang menyimpan firman Tuhan di dalam hatinya akan cepat bereaksi terhadap dosa.  Ia tidak menunggu sampai terjatuh untuk menyesal, tetapi segera menjauh ketika melihat tanda bahaya.  Kepekaan seperti ini hanya bisa dimiliki oleh mereka yang hidup dekat dengan firman.  Saat firman tertulis di loh hati, hati akan memiliki “refleks rohani” — bukan untuk menentang atau membenarkan diri, tetapi untuk menjaga kekudusan dan hubungan dengan Tuhan.

Dengan demikian, menyimpan firman seperti biji mata bukan hanya soal menghafal ayat atau mengetahui kebenaran, tetapi membangun sistem perlindungan rohani dalam diri kita.  

Kelopak menggambarkan kemampuan menolak godaan, alis menggambarkan disiplin yang menjaga konsistensi, dan refleks menggambarkan kepekaan terhadap dosa. 

Orang yang memiliki ketiganya akan berjalan dalam terang, karena pandangan rohaninya tidak terhalang oleh kabut dunia.

Firman Tuhan bukan hanya melindungi, tetapi juga menuntun.  Ketika firman tinggal di hati, kita tidak akan mudah goyah sekalipun badai datang.  Orang yang menjaga firman akan dijaga oleh firman itu sendiri.  Ia berjalan dengan langkah yang pasti, karena matanya tertuju kepada kebenaran Allah.  Hatinya peka, pikirannya jernih, dan tindakannya terarah.

Karena itu, jangan hanya membaca firman — jagalah.  Jangan hanya mendengarnya — hidupi.  Biarlah firman menjadi pusat penglihatan rohani kita, satu-satunya lensa yang menuntun arah hidup.  Ketika firman dijaga seperti biji mata, maka hidup kita akan terjaga dari kegelapan dunia.  Dan ketika mata rohani kita jernih, kita akan melihat dengan jelas jalan yang Tuhan sediakan, hingga akhirnya kita berjalan bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keyakinan penuh dalam terang kasih-Nya.



“Menjaga hati dengan firman membuat mata kita melihat dengan jelas"

Lukas Onggo Wijaya

A Happy learner, a happy reader, and a happy writer

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Recent in Technology