Sedikit Lagi Bisa Hancur
Amsal 6: 9-11
Kemalasan sering kali tidak terlihat jahat. Ia tidak tampak seperti kejahatan besar yang merusak hidup orang lain, tidak menumpahkan darah, dan tidak menipu siapa pun. Namun justru karena itulah ia begitu berbahaya—karena ia bekerja diam-diam, lembut, dan terasa wajar. Ia datang dalam bentuk keinginan kecil untuk menunda, menunggu waktu yang lebih tepat, atau beristirahat sedikit lebih lama. Tapi di balik kenyamanan itu, kemalasan menyembunyikan sesuatu yang mematikan: kehancuran perlahan.
Amsal menggambarkan kemalasan dengan nada peringatan yang tajam. “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring.”
Hanya “sedikit lagi” yang tampak tidak berbahaya itulah yang menjadi jebakan besar.
Tidak ada yang salah dengan istirahat; tubuh manusia memang butuh waktu untuk pulih. Tetapi ketika istirahat menjadi kebiasaan untuk menghindar dari tanggung jawab, saat itulah kemalasan mulai mencuri masa depan. Ia merampas waktu, menggerogoti semangat, dan menumpulkan kepekaan terhadap tujuan hidup.
Kehancuran karena kemalasan jarang datang tiba-tiba. Ia datang pelan-pelan, seperti embun pagi yang tak terasa, tapi meninggalkan jejak basah di mana-mana. Kemiskinan—baik secara materi maupun rohani—tidak muncul dalam semalam. Ia datang “seperti seorang penyerbu” yang diam-diam mengintai. Hari demi hari, jam demi jam, sedikit demi sedikit, seseorang kehilangan peluang, kehilangan arah, dan akhirnya kehilangan semangat untuk bangkit.
Betapa banyak potensi besar yang terkubur hanya karena satu kalimat sederhana: “Nanti saja.”
Namun pesan Amsal ini bukan hanya soal pekerjaan atau produktivitas fisik. Ia juga berbicara tentang kemalasan rohani. Ada banyak orang yang rajin bekerja, tetapi malas secara rohani. Mereka tahu pentingnya berdoa, membaca firman, melayani, atau membangun hubungan dengan Tuhan, tetapi selalu menundanya.
“Besok saya mulai berdoa.”
“Nanti kalau waktu luang, saya baca Alkitab.”
“Minggu depan saya mulai melayani lagi.”
Namun minggu berganti bulan, dan tahun berganti tahun, tidak ada perubahan. Tanpa disadari, roh malas membuat kita “tertidur” dalam hal-hal rohani, sementara musuh perlahan-lahan merebut ladang iman kita.
Kemalasan rohani adalah salah satu strategi halus yang paling efektif dari Iblis. Ia tidak selalu menjerumuskan kita lewat dosa besar, tetapi lewat penundaan kecil yang tampak tidak berbahaya. Ia tahu, orang yang terus menunda akan kehilangan momentum. Dan ketika hati kita mulai dingin terhadap hal-hal rohani, kita menjadi mudah teralihkan, mudah menyerah, dan kehilangan gairah untuk bertumbuh. Di titik itu, kehancuran rohani sudah mulai terjadi.
Hikmat dari Amsal ini memanggil kita untuk bangun sebelum terlambat.
Tidur sesaat memang perlu, tetapi hidup yang terus tertidur akan kehilangan arah. Tuhan tidak menciptakan kita untuk hidup pasif, melainkan aktif di dalam kasih karunia-Nya. Ia memberi kita waktu, tenaga, dan kemampuan bukan untuk disimpan, tetapi untuk digunakan. Hidup yang berhikmat adalah hidup yang sadar bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menghasilkan buah bagi Tuhan. Setiap jam yang kita gunakan dengan bijak adalah bentuk penyembahan kepada-Nya.
Kemalasan, sekecil apa pun, adalah pencuri halus yang mencuri masa depan. Ia membuat kita kehilangan kesempatan yang Tuhan sudah buka di depan mata. Ia mencuri sukacita dari pelayanan, merampas semangat untuk bekerja, dan mengikis kesetiaan dalam hal-hal kecil. Tidak heran Amsal memperingatkan bahwa kemiskinan datang seperti penyerbu—karena pada akhirnya, orang yang terus menunda akan kehilangan lebih banyak dari yang ia sadari.
Karena itu, biarlah setiap pagi menjadi panggilan kebangkitan rohani.
Ketika alarm hidup berbunyi—baik dalam bentuk kegagalan, dorongan hati, atau teguran firman—jangan menunda lagi. Bangunlah. Bergeraklah. Lakukan apa yang Tuhan percayakan hari ini. Gunakan waktu yang ada untuk mengasihi, melayani, dan menabur kebaikan. Waktu yang hilang tidak akan kembali, dan hidup yang disia-siakan tidak bisa diulang.
Jangan biarkan “sebentar lagi” menjadi alasan yang menenggelamkan masa depan. Bangunlah hari ini, sebelum “sedikit lagi” berubah menjadi terlambat. Sebab dalam setiap langkah kecil menuju kesetiaan, Tuhan menumbuhkan buah yang kekal—buah yang tidak akan hilang, bahkan di tengah dunia yang terus berubah.
“Penundaan kecil hari ini
bisa menjadi penyesalan besar besok.”
bisa menjadi penyesalan besar besok.”
