Hidup Tenang Tanpa Ketakutan

Hidup Tenang Tanpa Ketakutan

 

Amsal 28:1

"Orang fasik lari, walaupun tidak ada yang mengejarnya, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda."



Dosa selalu meninggalkan jejak ketakutan.  Tidak ada dosa yang tidak disertai rasa waswas dan kecemasan.  Bahkan ketika tidak ada ancaman nyata, hati nurani yang bersalah akan menciptakan bayangan sendiri yang menakutkan. 

Orang yang hidup dalam dosa seolah mendengar langkah kaki pengejar di belakangnya, padahal tidak ada siapa pun di sana. 

Ia hidup dalam pelarian yang tak berujung—bukan dari manusia, melainkan dari suara hatinya sendiri.  Hati yang tidak damai tidak bisa bersembunyi di balik topeng keberhasilan, kekuasaan, atau kepandaian.  Ia akan terus bergetar setiap kali menghadapi keheningan, karena di sanalah suara Tuhan berbicara dengan lembut namun tegas.

Orang fasik mungkin terlihat kuat di luar, tetapi di dalam hatinya selalu ada rasa takut.  Ketika ia menipu, ia takut ketahuan.  Ketika ia berbuat curang, ia takut dibalas.  Ketika ia berbuat dosa, ia takut dihakimi.  Dosa menciptakan jerat yang tak terlihat, membuat orang terpenjara oleh rasa bersalah dan kecemasan.  Seperti Adam dan Hawa yang bersembunyi di taman Eden setelah berbuat dosa, manusia berdosa pun cenderung bersembunyi dari hadapan Allah—padahal tidak mungkin bersembunyi dari mata-Nya.  

Pelarian itu melelahkan, dan semakin jauh seseorang melarikan diri, semakin besar ketakutan yang mengekornya.

Sebaliknya, orang benar memiliki ketenangan batin yang melahirkan keberanian.  Hidup mereka mungkin tidak lepas dari ancaman, tekanan, atau kesulitan, tetapi hati mereka tenang karena tahu siapa yang menyertai mereka.  Gambaran “singa muda” dalam Amsal ini begitu kuat—seekor singa muda tidak hidup tanpa tantangan, tetapi ia tegak, mantap, dan penuh keyakinan.  Ia tidak takut karena ia tahu kekuatannya.  Demikian pula, orang benar memiliki keberanian yang lahir dari kesadaran bahwa Tuhan adalah perlindungannya.  Ia tidak perlu lari, karena ia berdiri di atas dasar yang benar.

Keberanian ini bukan kesombongan, tetapi buah dari iman yang sejati.  Orang benar tidak mengandalkan diri sendiri, melainkan bergantung penuh pada Allah.  Ia tidak perlu memalsukan ketenangan, karena damai yang ia miliki bersumber dari keyakinan bahwa hidupnya ada di tangan Tuhan.  Inilah perbedaan mendasar antara orang fasik dan orang benar: yang satu mencari rasa aman dari kekuatannya sendiri, yang lain menemukan rasa aman dalam penyertaan Allah.  

Dunia bisa saja berusaha menciptakan keamanan lewat harta, status, atau kekuasaan, tetapi tanpa kebenaran, semuanya akan terasa rapuh. 

Orang benar, meski hidup sederhana, dapat berjalan dengan kepala tegak dan hati damai, sebab ia tahu bahwa Allah berpihak padanya.

Amsal ini bukan hanya menggambarkan dua jenis orang, tetapi juga dua kondisi hati yang sangat berbeda.  Orang fasik hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah dan ketakutan yang ia ciptakan sendiri, sedangkan orang benar hidup dalam ketenangan dan keberanian karena kebenaran menjadi pijakannya. 

Pertanyaannya bagi kita hari ini adalah: di sisi mana kita berdiri? Apakah kita hidup dengan hati yang gelisah seperti orang fasik, ataukah dengan damai dan keberanian seperti orang benar?

Hanya di dalam Kristus, hati yang berdosa bisa dipulihkan, dan rasa takut bisa digantikan dengan damai sejahtera.  Yesus datang bukan hanya untuk menghapus dosa, tetapi juga untuk menenangkan hati yang gelisah.  Ia berkata, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yohanes 14:27). Damai yang Kristus berikan bukan bergantung pada keadaan luar, tetapi berakar pada keyakinan bahwa Allah memegang kendali penuh atas hidup kita.

Ketika seseorang hidup di dalam Kristus, ia tidak perlu lagi lari dari masa lalunya.  Ia tidak perlu lagi takut akan konsekuensi dosa, karena kasih karunia telah menutupi semuanya.  Rasa bersalah yang dulu membelenggu berubah menjadi rasa syukur, dan ketakutan yang dulu menekan digantikan oleh keberanian yang tenang.  Orang benar bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi ia selalu kembali kepada Tuhan dan berjalan dalam terang kebenaran-Nya.  Itulah sebabnya ia dapat hidup dengan damai, tidak lagi dikuasai rasa takut, karena ia tahu bahwa Allah menyertainya di setiap langkah.

Keberanian seperti singa muda yang disebut dalam Amsal ini menggambarkan keteguhan iman yang tidak mudah digoyahkan.  Dunia mungkin mencoba menggertak, keadaan bisa berubah, tetapi hati yang bersandar pada Tuhan tidak akan goyah.  Orang benar tidak mencari keamanan dalam hal-hal duniawi, karena ia telah menemukannya dalam hubungan yang utuh dengan Sang Pencipta.  Itulah yang membuatnya mampu berjalan teguh bahkan di tengah badai kehidupan.

Akhirnya, Amsal ini mengajak kita untuk hidup dalam kebenaran setiap hari—bukan hanya agar kita “tidak takut,” tetapi supaya hidup kita mencerminkan keberanian yang lahir dari iman kepada Tuhan. 

Ketika kita hidup benar, kita tidak perlu bersembunyi. Kita tidak perlu lari, karena kita tahu bahwa Allah melihat dan melindungi. 

Dunia mungkin berguncang, tetapi hati yang benar di hadapan Tuhan akan tetap kokoh.  Dan di situlah kita menemukan arti sejati dari keberanian: bukan karena tidak ada bahaya, tetapi karena kita tahu siapa yang berjalan bersama kita.

Kiranya setiap langkah hidup kita mencerminkan keberanian seorang yang benar di dalam Kristus—berani menghadapi hari esok tanpa rasa takut, karena kita tahu bahwa Tuhan yang berdaulat atas hidup kita adalah perlindungan yang tak tergoyahkan.  Maka kita pun dapat berkata dengan yakin: “Aku tenang, sebab Allah menyertai. Aku kuat, sebab kebenaran-Nya menjadi perisaiku.”




"Ketenangan batin lahir dari hati yang murni, 
 sedangkan kegelisahan lahir dari hati yang jauh dari Allah."




Lukas Onggo Wijaya

A Happy learner, a happy reader, and a happy writer

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Recent in Technology