Jangan Kehilangan Kendali

Jangan Kehilangan Kendali



Amsal 20:1

Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya.




Setiap manusia mencari pelarian.  Ada yang melarikan diri dari rasa sakit dengan kesibukan, ada yang melarikan diri dari kesepian dengan hiburan, dan ada yang melarikan diri dari beban hidup dengan minuman keras.  Di permukaannya, semua itu tampak memberi kelegaan. Namun Amsal 20:1 dengan tegas membuka tabir kebenaran: pelarian seperti ini hanyalah ilusi yang menipu.

Anggur dan minuman keras, dalam konteks zaman dahulu, melambangkan segala bentuk pelarian yang membuat manusia kehilangan kendali.  Tidak hanya tentang alkohol secara harfiah, tetapi segala sesuatu yang membuat kita mabuk secara rohani — kesenangan, ambisi, bahkan kebanggaan diri.  

Ketika kita terhuyung-huyung, bukan karena minuman, tetapi karena dikuasai oleh sesuatu di luar Tuhan, maka kita sedang berjalan di jalan yang sama: jalan kebodohan.


Kehilangan kendali bukan hanya tentang tubuh yang goyah, tetapi juga tentang hati yang tidak lagi peka terhadap suara Tuhan.  Banyak orang yang hidupnya tampak stabil dari luar, tetapi sebenarnya sedang terhuyung di dalam.  Mereka kehilangan arah karena membiarkan sesuatu yang lain menggantikan tempat Allah di dalam hati.  Ketika emosi menguasai, kita berbicara tanpa berpikir.  

Ketika amarah memimpin, kita bertindak tanpa kasih. Dan ketika keinginan mengendalikan, kita berjalan tanpa hikmat.

Firman ini bukan sekadar peringatan moral, melainkan panggilan untuk hidup di bawah kendali Roh Kudus.  Paulus menulis dalam Efesus 5:18, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.”  Perbandingan ini menunjukkan bahwa mabuk dan dipenuhi Roh sama-sama menghasilkan pengaruh — bedanya, yang satu menghancurkan, yang satu menghidupkan.   

Orang yang mabuk kehilangan kesadaran dan berbicara sembarangan, sementara orang yang penuh dengan Roh berbicara dalam kasih dan hikmat.

Roh Kudus tidak menekan kepribadian kita, tetapi menuntun dan menguduskannya.  Ia memberi sukacita sejati yang tidak menipu, damai yang tidak bergantung pada keadaan, dan pengendalian diri yang menjaga kita dari kehancuran.  


Ketika dunia menawarkan tawa yang sementara, Roh Kudus memberi sukacita yang kekal.  Ketika dunia memberi pelarian yang palsu, Roh memberi kekuatan untuk menghadapi kenyataan dengan iman.

Maka, pertanyaannya hari ini bukan hanya “apakah aku mabuk oleh anggur,” tetapi lebih dalam lagi:

Apakah ada sesuatu yang menguasai hidupku selain Tuhan? 

Apakah aku dikuasai oleh keinginan untuk diakui, oleh kecanduan hiburan, atau oleh rasa takut yang terus menekan?  

 

Apa pun yang menguasai kita lebih dari Tuhan, pada akhirnya akan memperbudak kita.

Amsal 20:1 mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan sejati dimulai ketika kita belajar berkata tidak pada hal-hal yang mengambil alih kendali hidup kita.  Tuhan tidak ingin kita hidup dengan terhuyung-huyung secara rohani, tetapi berjalan tegak dalam terang hikmat-Nya.  Hidup yang terkendali bukanlah hidup yang kaku, tetapi hidup yang bebas karena tunduk kepada kebenaran.

Marilah hari ini kita berdoa agar Tuhan memulihkan keseimbangan hidup kita.  Biarlah setiap bagian dari hati dan pikiran kita dikuasai oleh kasih dan damai-Nya.  Jangan biarkan dunia membuat kita terhuyung, sebab hanya Tuhan yang sanggup menegakkan langkah kita dengan pasti.


"Hikmat sejati adalah tetap terkendali,
bahkan saat dunia menawarkan pelarian yang memabukkan."

Lukas Onggo Wijaya

A Happy learner, a happy reader, and a happy writer

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Recent in Technology