Jangan Dikuasai Uang
Amsal 22:7
Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.
Dalam satu kalimat yang singkat, Amsal 22:7 membuka realitas yang keras
namun jujur tentang dunia yang kita tinggali: “Orang kaya menguasai orang
miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” Ini bukan
sekadar pengamatan sosial, melainkan peringatan rohani yang menyingkapkan
hubungan antara uang, kekuasaan, dan kebebasan.
Ayat Ini Bukan Menuduh Orang Kaya, Juga Bukan Menertawakan Orang Miskin
Sebaliknya, ia mengingatkan kita bahwa dalam dunia yang rusak oleh dosa, uang dapat menjadi alat kuasa yang menindas atau sarana yang membelenggu — tergantung bagaimana manusia memperlakukannya.
Jika kita perhatikan, Amsal ini menggunakan dua lapisan makna. Pertama, makna sosial-ekonomi yang nyata: orang yang memiliki sumber daya — kekayaan, aset, atau modal — secara alami memiliki posisi yang lebih kuat. Ia bisa menentukan arah, memberi pengaruh, bahkan “menguasai” dalam arti memiliki kuasa lebih besar dibanding mereka yang kekurangan. Ini realitas yang kita lihat setiap hari. Uang membuka pintu, memberi kesempatan, dan sering kali menentukan siapa yang “memegang kendali.”
Namun, lapisan kedua dari ayat ini jauh lebih dalam — yakni makna spiritual. Hutang bukan hanya tentang uang, tetapi juga tentang ketergantungan hati. Seseorang bisa bebas secara finansial, tetapi tetap diperbudak oleh keinginan untuk memiliki lebih.
Mengapa ini terjadi?
Kita hidup di zaman di mana hutang telah menjadi bagian dari gaya hidup. Iklan dan budaya konsumtif mendorong kita
untuk membeli apa yang belum mampu kita bayar, dengan dalih “nanti bisa
dicicil.” Kredit, kartu, dan pinjaman menjadi hal yang normal, bahkan dianggap
modern.
Namun firman Tuhan mengingatkan: “Yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” Hutang memang tampak membantu di awal, namun di balik kenyamanan sementara itu, ada beban jangka panjang yang mengikat. Hutang bisa mencuri damai sejahtera, membuat kita bekerja tanpa arah, bahkan menciptakan jarak dalam relasi dan keluarga.
Alkitab tidak menentang pinjaman secara mutlak.
Ada situasi di mana meminjam bisa dilakukan dengan tanggung jawab dan
tujuan yang jelas. Tetapi hikmat firman
Tuhan selalu menekankan kewaspadaan: jangan biarkan diri dikuasai oleh hutang.
Rasul Paulus menulis, “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa
pun, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi...” (Roma 13:8). Artinya,
satu-satunya “hutang” yang boleh terus ada adalah hutang kasih. Semua bentuk
hutang lainnya seharusnya diselesaikan, karena setiap hutang membawa
konsekuensi — bukan hanya finansial, tetapi juga spiritual.
Hutang bukan hanya persoalan angka, tetapi persoalan hati.
Banyak orang berhutang bukan karena kebutuhan mendesak, tetapi karena
ketidakmampuan menahan diri. Mereka terperangkap dalam gaya hidup yang ingin
terus “tampak berhasil.” Mereka membeli bukan karena perlu, tetapi karena ingin
diakui.
Akibatnya, mereka terjebak dalam lingkaran perbandingan, rasa iri, dan tekanan sosial yang tak berkesudahan. Padahal, kebijaksanaan sejati justru dimulai ketika kita bisa berkata, “Cukup.”
Orang bijak tahu menunda kesenangan demi stabilitas jangka panjang. Ia tahu bahwa kesederhanaan bukan tanda kekurangan, tetapi tanda penguasaan diri. Sebaliknya, orang bodoh dikuasai oleh keinginannya. Ia ingin semua sekarang — tanpa berpikir panjang. Akibatnya, hidupnya penuh tekanan, dan kebebasannya terkikis sedikit demi sedikit.
Waspada: Perbudakan yang Tidak Terlihat
Itulah sebabnya Salomo memperingatkan: “Yang berhutang menjadi budak
dari yang menghutangi.” Perbudakan
ini tidak selalu tampak secara fisik, tetapi terasa di hati — ketika tidur tak
nyenyak karena tagihan, ketika bekerja tanpa sukacita karena dikejar cicilan,
ketika setiap keputusan hidup diukur dari kemampuan membayar, bukan dari
panggilan Tuhan.
Hutang mengikat jiwa dengan cara yang halus. Ia membuat seseorang kehilangan arah, tidak lagi hidup berdasarkan iman, melainkan berdasarkan tekanan. Ini adalah bentuk perbudakan modern yang Tuhan tidak kehendaki bagi anak-anak-Nya.
Tuhan Memanggil Kita untuk Hidup Bebas
Tuhan tidak ingin anak-anak-Nya hidup seperti itu. Ia memanggil kita untuk menjadi kepala, bukan
ekor; untuk menjadi pemberi, bukan penghutang. Prinsip kerajaan Allah selalu terbalik dari
dunia: dunia berkata, “Kuasai lebih banyak,” tetapi Tuhan berkata, “Belajarlah
puas.”
Dunia berkata, “Kumpulkan untuk dirimu,” tetapi Tuhan berkata, “Berbagilah dengan sesamamu.”
Dunia berkata, “Pinjam supaya tampak kaya,” tetapi Tuhan
berkata, “Hiduplah sederhana supaya bebas.”
Hidup Bebas dari Hutang Adalah Bentuk Penyembahan
Hidup bebas dari hutang bukan hanya soal manajemen uang, tapi soal
penyembahan. Ketika kita hidup dalam
batas yang Tuhan tetapkan, kita sedang menyatakan bahwa kita percaya kepada-Nya
— bahwa Ia cukup bagi kita.
Kita tidak perlu membeli pengakuan orang lain, karena kita sudah dikasihi oleh Pencipta kita. Kita tidak perlu hidup dalam tekanan untuk terlihat berhasil, karena keberhasilan sejati adalah hidup dengan damai dan sukacita di dalam Tuhan.
Jadi, jika hari ini engkau merasa terbebani oleh hutang atau tekanan keuangan, jangan putus asa. Tuhan tidak menghakimimu — Ia ingin memulihkanmu. Mulailah dengan langkah kecil: jujur pada keadaanmu, kurangi pengeluaran yang tidak perlu, dan mintalah hikmat Tuhan untuk mengatur keuangan dengan bijak.
Jadikan uang sebagai hamba yang berguna, bukan tuan yang kejam. Karena kebebasan sejati bukan saat kita memiliki banyak, tetapi ketika kita tidak lagi diperbudak oleh apa pun selain kasih Kristus.
“Uang bisa menjadi hamba yang berguna, tapi tuan yang kejam.
Bijaksanalah dalam menguasainya”
